Tuesday, 12 November 2013

Tips Toyota Menjinakkan Bom Waktu Pada Mesin Diesel




Peraturan emisi di Indonesia memang belum seketat di Eropa, tapi kini kita mulai kedatangan sejumlah mobil diesel modern yang memiliki emisi sangat bersih.

Di satu sisi kita sangat menghargai upaya pabrikan mobil untuk memelopori udara bersih. Tapi bila dihadapkan pada realitanya, membersihkan emisi dari mesin bukanlah sebuah urusan yang berbiaya murah. Karena pada dasarnya mesin adalah penghasil polutan yang cukup tinggi. Dibutuhkan teknologi maju untuk membuat mesin bersih tanpa menghilangkan performanya terlalu banyak.

Secara umum, mesin diesel memiliki emisi lebih aman ketimbang bensin. Jumlah partikel be­racun di mesin ini jauh le­bih sedikit. Meski begitu, peraturan ketat di negara maju membuat mesin diesel pun harus disunat emisinya. Salah satu cara adalah de­ngan penerapan diesel particulate filter.

Di Indonesia, sejumlah mobil diesel modern telah memiliki DPF di knalpot sebagai penjaga terakhir emisi gas buang. Sa­yangnya DPF ini rentan terhadap BBM diesel kualitas buruk. Alhasil kebutuhan BBM pun meningkat, bahkan bila terjadi kerusakan dapat menuntut biaya penggantian yang mahal.

Dari beberapa data yang kami dapat, dibutuhkan puluhan juta rupiah untuk mengganti sebuah DPF baru. Itu di mobil biasa. Di mobil premium bahkan ada yang mencapai lebih dari seratus juta rupiah.

Supaya Anda bisa lebih awas terhadap ‘bom waktu’ biaya di mesin diesel tersebut, berikut hal-hal yang perlu Anda ketahui mengenai DPF.

1. Bagaimana kerja sebuah DPF?
Simpel saja, DPF dibuat dari material yang mampu mencegat partikel berbahaya sebelum keluar dari knalpot. Partikel tersebut akan tertinggal di dalam DPF, dan emisi yang keluar akan jauh lebih bersih.

2. Mengapa kita membutuhkan DPF?
Jujur saja, sebagai konsumen kita tidak membutuhkan DPF. Itu adalah cara pabrikan mobil untuk mengurangi emisi mobil dieselnya sesuai dengan regulasi. Ketimbang mengeluarkan riset mahal untuk mengubah konstruksi mesinnya, kadang lebih murah bagi pabrikan untuk menangkal emisi dengan saringan seperti DPF.

Namun untuk regulasi Indonesia, kita tidak membutuhkan DPF seketat di Eropa. Meski begitu tetap ada beberapa mobil yang memakainya untuk pasar Indonesia. Ciri mobil tersebut adalah mensyaratkan BBM dengan kualitas solar yang baik.



3. Mengapa DPF menuntut BBM diesel kualitas tinggi?
Kemampuan DPF menyaring partikel berbahaya bisa sangat efektif. Sebuah DPF dengan standar Euro 6 misalnya, dapat menyaring hampir 100% partikel tak layak buang. Artinya makin tinggi standar sebuah DPF, dibutuhkan bahan bakar diesel berkualitas. Bila dipaksakan mengonsumsi BBM kualitas rendah, jumlah partikel yang tersaring akan sangat banyak dan akan cepat menyumbat. Alhasil, umur DPF berkurang, dan di saat itu performa serta kehematan mesin akan memburuk pula.

4. Apa yang akan terjadi dengan partikel yang menumpuk?
Sebuah DPF di mobil mo­dern memiliki mekanisme un­tuk membersihkan sendiri polutan yang menumpuk di saringan. Cara yang pasif adalah de­ngan menggunakan material yang akan membakar partikel bila suhu meningkat akibat pe­numpukan.

Sedangkan yang lebih canggih lagi adalah cara aktif. Di DPF jenis ini sistem bisa menyemprotkan bahan bakar ke DPF yang sudah sangat panas untuk membakar partikel. Atau ia juga bisa mengatur campuran di ruang bakar supaya suhu mening­kat dan memicu pemba­karan partikel.

5. Kapankah sebuah DPF bisa rusak?
Semestinya DPF dirancang untuk tahan lama bahkan sudah ada yang bisa sampai 200 ribu km. Kunci dari ketahanan DPF ini addalah kemampuannya meregenerasi dirinya sendiri, atau dengan kata lain membersihkan partikel kotor di dalamnya.

Akan tetapi DPF juga memiliki kemampuan maksimal dalam meregenerasi diri.  Bila partikel yang mengendap diakibatkan BBM kualitas buruk dan melebihi kemampuan regenerasinya, maka DPF harus diganti.
6. Amankah bila saya melepas DPF?
Secara teori permesinan, melepas saringan tak akan berpengaruh buruk ke mesin, walaupun emisi yang keluar dari kendaraan akan meningkat. Toh dengan regulasi di Indonesia, semestinya tak jadi terlalu bermasalah.

Tapi sayangnya mesin diesel modern juga memiliki sensor yang akan langsung mendeteksi emisi buruk yang dikeluarkan knalpot. Alhasil sistem komputer akan langsung mengoreksi kinerja mesin terus menerus. Bila masih mendeteksi ketidakberesan emisi, lampu ‘Check Engine’ akan menyala dan sangat besar kemungkinan mesin berjalan tidak efisien.

7. Bagaimana supaya DPF awet?
Tidak ada cara selain menggunakan BBM sesuai rekomendasi pabrikan. Makanya sebelum membeli mobil diesel modern, tanyakan apa BBM yang direkomendasi untuk mobil tersebut. Bila ada beberapa pilihan, menggunakan BBM dengan kualitas terbaik tetap membuat usia pakai DPF lebih panjang. Tapi bila Anda nekat menggunakan BBM berkualitas lebih rendah, bukan hanya DPF cepat rusak, garansi mobil pun tak akan bisa menanggungnya.

8. Apakah semua mobil Eropa di Indonesia memakai DPF berstandar Euro tinggi?
Tidak semua. APM di Indonesia berhak menentukan spesifikasi kendaraan yang akan dijual di Indonesia. Sebagian sudah menurunkan kualifikasi DPF atau bahkan mencopotnya sama sekali untuk kemudahan konsumen mendapatkan BBM. Tapi ada juga beberapa pabrikan yang masih memakai DPF standar tinggi. Supaya lebih pasti, Anda bisa langsung tanyakan ke bagian servis atau bengkel APM bersangkutan, karena biasanya tak semua sales person mengerti.










sumber: autobild.co.id

Terima Kasih Atas Kunjungan nya ke Blog Anzon Toyota Tambun silahkan isi komentar anda.